Kamis, 11 April 2019

PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA

0 komentar

Pengertian Pancasila Sebagai Sistem Etika
Menurut Margono (2012:25) secara etimologis etika berasal dari bahasa Yunani “ethos” berarti watak, keharusan, dan adat. Pengertian yang diberikan Magnis Suseno dalam Margono (2012:25) etika merupakan pengkajian filsafat tentang bidang yang menyangkut kewajiban-kewajiban manusia serta tentang yang baik dan buruk. Said dalam Margono (2012:25) menjelaskan bahwa etika berasal dari bahasa Yunani “ehos” dan dari bahasa latin “mos” jamaknya “mores” berarti watak, adat atau cara hidup yang menunjukkan cara berbuat yang menjadi adat karena persetujuan atau praktek sekelompok manusia. Dengan demikian, etika atau moral sebagai adat kebiasaan yang terikat pada pengertian baik dan buruk dalam tingkah laku manusia. Etika juga sering disamakan dengan akhlak dalam bahasa arab yakni perangai atau tabiat. Etika merupakan ilmu tentang akhlak, yang hakekatnya gambaran batin manusia yang tepat. Akhlak dalam kehidupan sehari-hari berarti budi pekerti atau kesusilaan atau sopan santun.
Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam Margono (2012:26) menjelaskan etika sebagai berikut. Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak). Dan kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.
Nilai mengenai benar atau salah yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat. Etika merupakan pemikiran kritis yang memberikan pengertian mengapa manusia harus hidup sesuai dengan aturan norma. Menurut Margono (2012:26) etika adalah merupakan filsafat atau pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran moral. Dengan demikian mengantarkan orang pada kemampuan untuk bersikap kritis rasional untuk membedakan yang baik dan tidak baik, yang gilirannya memungkinkan mengambil sendiri serta ikut menentukan perkembangan masyarakat, karena etika mempersoalkan keadaan manusia bagaimana ia harus bersikap dan bertindak.
Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa yang dimaksud etika Pancasila adalah etika yang mengacu dan bersumber pada nilai-nilai, norma Pancasila sebagai dasar negaradan pandangan hidup bangsa. Karena hakekat inti ajaran Pancasila adalah ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, keadilan maka etika Pancasila mengacu pada substansi atau inti ajaran tersebut. Terminologi di belakang kata etika, yakni Pancasila sekaligus menunjukkan karakteristik konsep, prinsip, dan nilai bangsa Indonesia yang


berbeda dengan bangsa lain; contohnya: liberalism, pragmatism, feodalisme, hedonisme, utilitarianisme, idealisme, sekularisme, vitalisme, teologisme, komunisme, machiavelisme, individualisme, dan lain-lain (Winarno dalam Margono (2012:26).
Pancasila sebagai sumber nilai diwujudkan dengan menjadikan nilai dasar Pancasila sebagai sumber pembentukan norma etik (norma moral) dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Nilai-nilai Pancasila adalah nilai moral oleh karena itu, nilai Pancasila juga dapat diwujudkan kedalam norma-norma moral (etik). Norma-norma etik tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai pedoman atau acuan dalam bersikap dan bertingkah laku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Norma-norma etik sebagai pedoman dalam bersikap dan bertingkah laku telah berhasil dirumuskan bangsa Indonesia saat ini melalui wakil rakyatnya. Norma-norma etik tersebut bersumber pada Pancasila sebagai nilai budaya bangsa. Rumusan norma etik tersebut tercantum dalam ketetapan MPR No. VI/MPR/2001 tentang Etika Kehidupan Berbangsa, Bernegara, dan Bermasyarakat.
Ketetapan MPR No. VI/MPR/2001 tentang etika kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat merupakan penjabaran nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman dalam berfikir, bersikap, dan bertingkah laku yang merupakan cerminan dari nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan yang sudah mengakar dalam kehidupan bermasyarakat.
Pancasila sebagai suatu sistem etika, menyangkut etika dalam berbagai kegiatan sebagaimana dikemukakan Parwiyanto dalam Margono (2012:27) yang secara singkat dapat dijelaskan sebagai etika politik dan pemerintahan, etika ekonomi dan bisnis, etika sosial budaya, etika penegakan hukum yang berkeadilan, serta etika keilmuan dan disiplin kehidupan. Pancasila etika politik dan pemerintahan dimaksudkan untuk mewujudkan kepemerintahan yang baik (good governance) yakni pemerintahan yang bersih, efisien, dan efektif; transparan dan akuntabel. Di samping itu juga menumbuhkan suasana politik yang demokratis yang bercirikan keterbukaan, rasa tanggungjawab, tanggap akan aspirasi rakyat; menghargai perbedaan; jujur dalam persaingan; ketersediaan untuk menerima pendapat yang lebih benar walau datang dari orang per orang ataupun kelompok orang; serta menjunjung tinggi dalam memberikan pelayanan kepada publik, siap mundur apabila dirinya merasa telah melanggar kaidah dan sistem nilai ataupun dianggap tidak mampu memenuhi amanah masyarakat, bangsa, dan negara.
Pancasila sebagai etika ekonomi dan bisnis dimaksudkan agar prinsip dan perilaku ekonomi, baik oleh pribadi, institusi, maupun mengambil keputusan dalam bidang ekonomi, dapat melahirkan kondisi dan realitas ekonomi yang bercirikan persaingan yang jujur, berkeadilan, mendorong berkembangnya etos kerja ekonomi, daya tahan ekonomi, dan kemampuan bersaing serta terciptanya suasana kondusif untuk pemberdayaan ekonomi rakyat melalui usaha-usaha bersama secara berkesinambungan. Hal itu bertujuan menghindarkan terjadinya praktik-praktik monopoli, oligopoli, kebijakan ekonomi yang bernuansa KKN ataupun rasial yang berdampak negatif terhadap efisiensi, persaingan sehat, dan keadilan; serta menghindarkan perilaku menghalalkan segala cara dalam memperoleh keuntungan.
Pancasila sebagai etika sosial dan budaya bertolak dari rasa kemanusiaan yang mendalam dengan menampilkan kembali sikap jujur, saling peduli, saling memahami, saling menghargai, saling mencintai, dan tolong menolong diantara sesame manusia dan anak bangsa. Senapas dengan itu juga menghidupkan kembali budaya malu, yakni malu berbuat kesalahan dan semua yang bertentangan dengan moral agama dan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Untuk itu, perlu dihidupkan kembali budaya keteladanan yang harus dimulai dan diperlihatkan contohnya oleh para pemimpin pada setiap tingkat dan lapisan masyarakat.
Pancasila sebagai sistem etika penegakan hukum dan berkeadilan dimaksudkan untuk menumbuhkan kesadaran bahwa tertib sosial (social order), ketenangan, dan keteraturan hidup bersama, ketertiban masyarakat hanya dapat diwujudkan dengan ketaatan terhadap hukumdan seluruh peraturan yang ada. Keseluruhan aturan hukum apabila ditaati oleh seluruh masyarakat akan menjamin tegaknya supremasi hukum, terlaksananya pemerintahan berdasarkan hukum. Hal ini sejalan dengan kehendak bersama menuju kepada pemenuhan rasa keadilan yang hidup dan berkembang dalam masyarakat.
Pancasila sebagai etika keilmuan diwujudkan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai ilmu pengetahuan dan teknologi agar mampu berfikir rasional, logis, dan objektif. Etika ini ditampilkan secara pribadi dan ataupun kolektif dalam perilaku gemar membaca, belajar, meneliti, menulis, membahas, dan kreatif dalam menciptakan karya-karya baru, serta secara bersama-samamenciptakan iklim kondusif bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan etika keilmuan dan kedisiplinan akan menjadikan kemanfaatan bagi kehidupan “ilmu yang amaliah, ilmu yang ilmiah”.
Pancasila sebagai sistem etika, manakala dijadikan acuan dalam kehidupan maka nilai-nilai Pancasila akan tercermin dalam norma-norma etik kehidupan berbangsa dan bernegara dapat kita amalkan. Untuk berhasilnya perilaku bersandarkan pada norma-norma etik kehidupan berbangsa dan bernegara, ada beberapa hal yang perlu dilakukan sebagai berikut. Proses penanaman dan pembudayaan etika tersebut hendaknya menggunakan bahasa agama dan bahasa budaya sehingga menyentuh hati nurani dan mengundang simpati dan dukungan seluruh masyarakat. Apabila sanksi moral tidak lagi efektif, langkah-langkah penegakan hukum harus dilakukan secara tegas dan konsisten. Proses penanaman dan pembudayaan etika dilakukan melalui pendekatan cara indoktrinasi. Pelaksanaan gerakan nasioanal etika berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat secara sinergik dan berkesinambungan yang melibatkan seluruh potensi bangsa, pemerintah ataupun masyarakat. Perlu dikembangkan etika-etika profesi, seperti etika profesi hukum, profesi kedokteran, profesi ekonomi, dan profesi politik yang dilandasi oleh pokok-pokok etika ini yang perlu ditaati oleh segenap anggotanya melalui kode etik profesi masing-masing. Mengkaitkan pembudayaan etika kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat sebagai bagian dari sikap keberagaman, yang menempatkan nilai-nilai etika kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat di samping tanggungjawab kemanusiaan juga sebagai bagian pengabdian pada Tuhan Yang Maha Esa (Parwiyanto dalam Margono 2012:29).

Tujuan Pancasila Sebagai Sistem Etika
Tujuan pancasila sebagai sistem etika yakni untuk dijadikan acuan dalam kehidupan karena nilai-nilai pancasila yang tercermin dalam norma-norma etik kehidupan dan bernegara dan diharapkan dapat diamalkan oleh masyarakat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.  Pancasila sebagai sistem etika juga bertujuan untuk dijadikan dasar penentuan suatu kegiatan yang nantinya dapat mewujudkan pemerintahan yang bersih, efisien, efektif, transparan, dan akuntabel.  Etika dalam pancasila juga dapat dijadikan tolok ukur mengenai keperibadian suatu bangsa dan Negara karena dapat dilihat dari tingkah laku masyarakat dalam kesehariannya. 
DAFTAR RUJUKAN
Margono.2012.Pendidikan Pancasila.Malang: UM Press

Read more...

PENGEMBANGAN REOG PONOROGO MELALUI SANGGAR SENI

0 komentar

PENGEMBANGAN REOG PONOROGO MELALUI SANGGAR SENI


Erni Febriana
160131600471
Administrasi Pendidikan / A
Pendidikan Kewarganegaraan


Universitas Negeri Malang
Email: ernifebri27@gmail.com


PENDAHULUAN
Indonesia adalah Negara yang dikenal dengan adanya banyak budaya. Keragaman budaya atau “cultural diversity” adalah keniscayaan yang ada di bumi Indonesia. Cultural diversity diartikan sebagai kekayaan budaya yang dilihat sebagai cara yang ada dalam kebudayaan kelompok atau masyarakat untuk mengungkapkan ekspresinya. Hal ini tidak hanya berkaitan dalam keragaman budaya yang menjadi kebudayaan latar belakangnya, namun juga variasi dalam penciptaan artistic, produksi, disseminasi, distribusi dan penghayatannya, apapun makna dan teknologi yang digunakan. Selain kebudayaan kelompok suku bangsa, masyarakat Indonesia juga terdiri dari berbagai kebudayaan daerah bersifat kewilayahan yang merupakan pertemuan dari berbagai kebudayaan kelompok sukubangsa yang ada di daerah tersebut.
Menurut Taylor (1897) dalam Sulaeman (2012) Kebudayaan adalah pemahaman perasaan suatu bangsa yang kompleks meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat (kebiasaan), dan pembawaan lainnya yang diperoleh dari anggota masyarakat. Perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi social, religi, seni, dan lain-lain. Sedangkan budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Kebudayaan berfungsi sebagai wadah atau tempat mengungkapkan perasaan seseorang dalam masyarakat ataupun untuk memuaskan keinginan, misalnya dengan adanya seni-seni di masyarakat. Menurut Sedyawati (2006) ungkapan-ungkapan seni, baik yang “adi luhung” maupun yang “hiburan”, disamping nilai estetik atau nilai hiburannya, tentu kesenian memiliki fungsi sosial. Misalnya dalam masyarakat yang cukup kompleks, dapat pula suatu jenis kesenian tertentu menjadi ‘milik’ atau ‘tanda pengenal’ bagi suatu golongan masyarakat tertentu, tanpa suatu konotasi akan adanya ‘hak khusus’. ‘Tanda pengenal’ seperti itu mungkin lebih berhubungan dengan jenis pekerjaan (seperti halnya reog). Kesenian yang ada tersebut akan luntur seiring perkembangan zaman apabila tidak dilestarikan.
PEMBAHASAN
Reog ponorogo adalah salah satu budaya yang ada di Indonesia. Sebagai kebudayaan atau kesenian tradisional, ia bersifat terbuka, oleh rakyat dan untuk rakyat, sesuai dengan system masyarakatnya yang demokratis. Reog ponorogo juga bisa dikatakan sebagai suatu seni tari karena kesenian ini berwujud tari-tarian. Tari merupakan suatu ungkapan inspirasi manusia terhadap keindahan. Secara singkat asal mula reog ponorogo diawali dari kisah seorang putri cantik yang mengadakan sebuah sayembara , putri cantik tersebut bernama Dewi Songgolangit dari Kerajaan Daha. Syarat untuk menjadi pendamping sang dewi harus membawakan manusia yang bekepala hewan. Selain itu, harus menciptakan kesenian yang belum pernah ada dan membawakan 140 pasang hewan. Dan seseorang yang mampu memenuhi syarat tersebut yaitu Prabu Klono Sewandono dari Kerajaan Bantarangin. Prabu klono sewandono membawa manusia yang bekepala macan yang diatasnya ada burung merak yang dan diiringi dengan musik gamelan. Yang kemudian dinamai Reog Ponorogo.
Seiring berkembangnya zaman, kesenian reog ponorogo akan luntur jika tidak dilestarikan atau bahkan dikembangkan. Seperti yang kita ketahui beberapa waktu yang lalu, kesenian reog ponorogo pernah diakui oleh Negara lain dikarenakan kurangnya partisipasi masyarakat Indonesia dalam melestarikan kebudayaan reog, khususnya generasi muda. Kejadian itu akan terulang jika kita sebagai warga Negara tidak melakukan tindakan nyata untuk pelertariannya.
Ada beberapa cara untuk menjaga dan melestarikan serta mengembangkan kesenian Reog Ponogoro agar tetap lestari dan berkembang dari zaman ke zaman. Salah satu caranya adalah dengan melalui sanggar seni. Sangar seni ini dirasa sangat tepat untuk mengatasi permasalahan yang terjadi. Sanggar seni adalah suatu tempat yang digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan kegiatan seni, seperti seni tari. Dengan adanya sanggar seni kita dapat mempelajari reog ponorogo lebih dalam dan lebih detail. Sanggar seni sangat penting dalam proses pengembangan reog ponorogo. Karena dalam sanggar seni kita tidak hanya mempelajari macam-macam tariannya tetapi kita juga dapat mempelajari macam-macam kostum yang dipakai dalam pertunjukan reog ponorogo. Reog ponorogo bukan hanya kesenian yang berisi tari barongan atau dadak merak saja melainkan terdapat tarian-tarian yang melengkapinya seperti tari untuk para pasukan yaitu warok, jathil, dan bujang ganong. Dalam pertunjukan reog ponorogo ada juga yang berperan sebagai raja atau prabu yaitu sebagai prabu klono sewandono.
Jathil adalah prajurit berkuda dan merupakan salah satu tokoh dalam seni Reog. Jathilan merupakan tarian yang menggambarkan ketangkasan prajurit berkuda yang sedang berlatih di atas kuda. Tarian ini dibawakan oleh penari di mana antara penari yang satu dengan yang lainnya saling berpasangan. Ketangkasan dan kepiawaian dalam berperang di atas kuda ditunjukkan dengan ekspresi atau greget sang penari. Jathilan ini pada mulanya ditarikan oleh laki-laki yang halus, berparas ganteng atau mirip dengan wanita yang cantik. Gerak tarinya pun lebih cenderung feminin. Sejak tahun 1980-an ketika tim kesenian Reog Ponorogo hendak dikirim ke Jakarta untuk pembukaan PRJ (Pekan Raya Jakarta), penari jathilan diganti oleh para penari putri dengan alasan lebih feminin. Ciri-ciri kesan gerak tari Jathilan pada kesenian Reog Ponorogo lebih cenderung pada halus, lincah, genit. Hal ini didukung oleh pola ritmis gerak tari yang silih berganti antara irama mlaku (lugu) dan irama ngracik.
 “Warok” yang berasal dari kata wewarah adalah orang yang mempunyai tekad suci, memberikan tuntunan dan perlindungan tanpa pamrih. Warok adalah wong kang sugih wewarah (orang yang kaya akan wewarah). Artinya, seseorang menjadi warok karena mampu memberi petunjuk atau pengajaran kepada orang lain tentang hidup yang baik.Warok iku wong kang wus purna saka sakabehing laku, lan wus menep ing rasa (Warok adalah orang yang sudah sempurna dalam laku hidupnya, dan sampai pada pengendapan batin). Warok merupakan karakter/ciri khas dan jiwa masyarakat Ponorogo yang telah mendarah daging sejak dahulu yang diwariskan oleh nenek moyang kepada generasi penerus. Warok merupakan bagian peraga dari kesenian Reog yang tidak terpisahkan dengan peraga yang lain dalam unit kesenian Reog Ponorogo. Warok adalah seorang yang betul-betul menguasai ilmu baik lahir maupun batin.
Barongan (Dadak merak) merupakan peralatan tari yang paling dominan dalam kesenian Reog Ponorogo. Bagian-bagiannya antara lain; Kepala Harimau (caplokan), terbuat dari kerangka kayu, bambu, rotan ditutup dengan kulit Harimau Gembong. Dadak merak, kerangka terbuat dari bambu dan rotan sebagai tempat menata bulu merak untuk menggambarkan seekor merak sedang mengembangkan bulunya dan menggigit untaian manik – manik (tasbih). Krakap terbuat dari kain beludru warna hitam disulam dengan monte, merupakan aksesoris dan tempat menuliskan identitas group reog. Dadak merak ini berukuran panjang sekitar 2,25 meter, lebar sekitar 2,30 meter, dan beratnya hampir 50 kilogram.
Klono Sewandono atau Raja Kelono adalah seorang raja sakti mandraguna yang memiliki pusaka andalan berupa Cemeti yang sangat ampuh dengan sebutan Kyai Pecut Samandiman kemana saja pergi sang Raja yang tampan dan masih muda ini selalu membawa pusaka tersebut. Pusaka tersebut digunakan untuk melindungi dirinya. Kegagahan sang Raja di gambarkan dalam gerak tari yang lincah serta berwibawa, dalam suatu kisah Prabu Klono Sewandono berhasil menciptakan kesenian indah hasil dari daya ciptanya untuk menuruti permintaan Putri (kekasihnya). Karena sang Raja dalam keadaan mabuk asmara maka gerakan tarinyapun kadang menggambarkan seorang yang sedang kasmaran.
Bujang Ganong (Ganongan) atau Patih Pujangga Anom adalah salah satu tokoh yang enerjik, kocak sekaligus mempunyai keahlian dalam seni bela diri sehingga disetiap penampilannya senantiasa di tunggu – tunggu oleh penonton khususnya anak – anak. Bujang Ganong menggambarkan sosok seorang Patih Muda yang cekatan, berkemauan keras, cerdik, jenaka dan sakti. Sebagai jathil yang memiliki watak seperti prajurit maka orang tersebut juga harus bertingkah laku seperti prajurit. Begitu juga dengan yang berperan sebagai warok, bujang ganong, dan prabu klono sewandono. Maka dari itu sebelum memerankan para tokoh diharapkan untuk mengetahui watak-watak dari setiap tokoh yang akan diperankan dan itu dipelajari dalam sanggar seni. Setiap tokoh dalam reyog memilik tarian yang berbeda-beda. Tergantung dari watak setiap tokoh yang diperankan dalam reyog ponorogo. Seseorang yang berperan
Dalam pertunjukan reog ponorogo terbagi atas 3 tarian yaitu tarian pembuka, tarian inti, dan tarian pentup. Tarian pertama dibawakan oleh 6 sampai 8 pria dengan menggunakan pakaian serba hitam dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 pria penunggang kuda. Denga seiring berkembangnya zaman penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki sekarang diperankan oleh wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang atau jathilan, yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu yang disebut Bujang Ganong atau Ganongan.
Setelah tarian pembuka selesai, baru ditampilkan adegan inti dari kesenian ini. Isi dan makna kesenian pada tari inti bergantung pada kondisi pementasan. Jika dipentaskan dalam acara pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan, sedangkan untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita tentang seorang pendekar. Jadi tema tarian ini dapat disesuaikan dengan mudah. Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog ini adalah memberikan kepuasan kepada para penontonnya sehingga penonton dapat terkesan.
Adegan terakhir adalah singa barong, dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi. Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga dipercaya diperoleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa.
Dalam pertunjukannya, Reog Ponorogo diiringi oleh musik tradisional yaitu dengan gamelan. Musik tradisional adalah musik yang hidup di masyarakat secara turun temurun, dipertahankan dan dilestarikan sebagai sarana hiburan dan pertunjukan. Tiga komponen yang saling mempengaruhi diantaranya seniman, musik itu sendiri, dan masyarakat sebagai penikmatnya.
Melalui sanggar seni, pengembangan reog ponorogo akan berkembang lebih baik dan akan tetap terjaga kelestariannya dari generasi ke generasi dan diharapkan akan mendunia sehingga dapat bersaing dalam kesenian global. Karena semua yang berhubungan dengan reog dipelajari dalam sanggar seni. Sanggar seni ini tidak hanya untuk orang-orang dewasa tetapi juga untuk anak-anak sehingga semua umur dapat menikmati pertunjukan ini. Di Ponorogo sendiri  sudah banyak anak-anak yang berumur 5 tahun keatas sudah mahir untuk menarikan tarian reog sesuai tokoh-tokoh yang mereka perankan. Hal ini merupakan salah satu cara agar reog ponorogo tidak akan luntur dimakan oleh zaman.
Dengan adanya sanggar seni maka dapat mengolah seni yang dimiliki oleh suatu kelompok masyarakat untuk kepentingan pertunjukan dengan tidak meninggalkan ciri khas budaya daerahnya, meletarikan dan mengembangkan kesenian daerah, untuk menghidupkan kembali kesenian yang sudah atau hampir punah, dapat menciptakan lapangan kerja bagi para seniman. Melalui atraksi-atraksi ( tari, musik, ukir dan lukis) yang digelar dapatmembantu masyarakat dalam meningkatkan pengenalan dan apresiasi budaya. Melalui sanggar seni, pembinaan kesenian dapat terorganisir secara baik sehingga pembinaan dan pengembangannya berakar pada kebudayaan asli suatu kelompok masyarakat atau suku bangsa. Selain itu, bagian dari kebudayaan yang tidak dapat di pamerkan, seperti : gerak tari, musik (instrumen dan vokal),pelaku seni (penari atau pemusik) dan lain-lainnya dapat dilihat melalui pertunjukan seni yang ditampilkan oleh sanggar seni.
Melihat dari beberapa fungsi sanggar seni yang disebutkan diatas masih banyak kendala yang dihadapi. Terutama bagaimana cara menarik para generasi muda untuk mau belajar dalam sanggar seni. Karena di era modern seperti ini para generasi muda lebih menyukai belajar tari modern daripada tari tradisional seperti reog ponorogo ini. Untuk menarik para generasi muda agar mau belajar seni adalah mewajibkan setiap sekolah memberikan pelajaran kesenian yang mengharuskan siswa belajar melalui sanggar seni. Selain itu, dalam sanggar seni ini yang biasanya melakukan pagelaran bisa memberikan reward kepada para penari. Sehingga secara tidak langsung ini akan menarik para generasi muda untuk belajar seni. Usaha lain yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pengerrtian kepada para generasi muda bahwa pentingnya menjaga kebudayaan asli Indonesia. Bisa juga dilakukan sosialisasi tentang kebudayaan-kebudayaan terutama kesenian reog ponorogo. Dimana dalam sosialisasi tersebut menjelaskan peran penting generasi muda dalam pengembangan budaya. Dengan cara yang demikian, perlahan akan membuat generasi muda sadar akan pentingnya peran mereka dalam menjaga kelestarian budaya.
Reog ponorogo harus tetap dijaga kelestariannya. Salah satunya melalui sanggar seni ini. Sudah banyak sanggar seni yang berdiri di Kabupaten Ponorogo. Hanya saja masih sedikit minat dari generasi muda untuk mempelajari reog ponorogo lebih dalam. Namun demikian, untuk menanamkan rasa cinta terhadap budaya lokal beberapa sekolah yang ada di Ponorogo juga terdapat mata pelajaran yang berhubungan dengan reog ponorogo. Bahkan mewajibkan kepada para siswa untuk memerankan tokoh dalam reyog ponorogo melalui pertunjukan tari. Dengan banyaknya sanggar seni yang sudah berdiri diharapkan mampu membawa reog ponorogo menjadi budaya yang dikenal masyarakat luas dan dapat dipertunjukan di berbagai Negara  di dunia sehingga kesenian reog ponorogo dapat bersaing dalam kesenian global. Reog ponorogo adalah kesenian asli yang berasal dari Indonesia dan bukan kesenian dari Negara lain seperti yang sudah terjadi sebelumnya.
Dimana mengingat beberapa waktu lalu negera tetangga Malaysia telah mengklaim bahwa kesenian reog penorogo adalah kesenian asli dari Malaysia dan ini salah besar. Hal ini terbukti bahwa masyarakat Indonesia sendiri kurang memperhatikan budaya local sehingga budaya local pun dapan diklaim Negara lain. Peran Sanggar seni akan sangat penting dalam membantu perkembangan reog ponorogo. Maka dari itu, perlu adanya sanggar seni lebih banyak untuk mengembangkan reog ponorogo. Selain itu perlu adanya minat dari generasi muda untuk belajar kesenian reog ponorogo dan dengan ini maka akan banyak generasi muda yang berbudaya dan mampu melestarikan kebudayaan local.
Sesuai perananya untuk mengembangkan kesenian reog ponorogo agar dapat berkembang sesuai zaman tanpa merubah pakem yang sudah ada, sanggar seni juga melakukan improvisasi dalam pertunjukannya agar semakin bisa diterima masyarakat luas. Tetapi improvisasi ini hanya dapat digunakan untuk pertunjukan saja, bukan dalam perlombaan dan kompetisi yang harus sesuai pakem yang ada.
Misalnya melakukan improvisasi dalam sanggar seni pertunjukan reog ponorogo yaitu dengan menambahkan unsur lawakan atau guyonan,akrobatik seperti salto sambil lepas tangan, makan api, sampai mengupas kelapa dengan gigi. Semua ini dapat dilakukan asalkan tidak menyimpang dari syariat agama. Dengan menampilkan pertunjukan yang inovatif dan kreatif maka juga akan berdampak pada daya jual atau pemasaran  yaitu semakin banyak minat masyarakat untuk melihat dan menyaksikan pertunjukan maka akan semakin besar kesempatan kesenian reog  untuk tampil di berbagai perayaan atau perhelatan di berbagai wilayah di Indonesia sehingga secara tidak langsung kesenian reog ponorogo dapat berkembang secara maksimal.
Dilihat dari manfaat yang ada dari didirikannya sanggar seni maka dapat disimpulkan bahwa peranan sanggar seni sangatlah penting. Terutama dalam hal perkembangan reog ponorogo di era sekarang ini. Dengan adanya sanggar seni reog ponorogo tidak akan luntur dimakan zaman dan akan terus berkembang dengan baik dari generasi ke generasi. Sanggar seni pula lah yang akan membuat reog ponorogo berkembang di kancah internasional. seperti dalam berita akhir-akhir ini bahwa reog ponorogo akan menuju pengakuan UNESCO. Hal ini tidak terlepas dari peran sanggar seni juga.
Memperkenalkan kebudayaan bangsa kedalam kancah internasional memiliki banyak manfaat. Kemajuan kebudayaan juga memiliki nilai positif bagi kepentingan ekonomi dan politik. Peningkatan peran budaya Indonesia dalam kancah internasional berarti akan meningkatkan volume pertemuan dengan kebudayaan asing yang ada sehingga akan mendorong pengembangan dan pengayaan kebudayaan bangsa. Selain itu, juga akan membantu pembangunan watak bangsa, dalam konteks memperkukuh jati diri bangsa Indonesia serta menumbuhkan kebanggaan nasional dan cinta tanah air.
Dengan demikian, sudah dapat dilihat dengan jelas bahwa sanggar seni sangat berperan banyak dalam pengembangan budaya. Melalui sanggar seni generasi muda dapat mempelajari kesenian reog ponorogo lebih dalam. Karena dalam sanggar seni para generasi muda mempelajari beragam gerak tari, macam-macam kostum, ragam music gamelan, dan masih banyak lagi yang didapatkan di sana. Dengan begitu, generasi muda dapat melakukan pengembangan reog ponorogo. Gerakan tari yang dikuasai dapat ditampilkan melalui pertunjukan-pertunjukan reog. Misalnya mengikuti acara pertunjukan reog yang biasa disebut dengan Festival Reog Nasional dalam grebeg suro yang diadakan setiap tahunnya. Terdapat puluhan sanggar seni yang mengikuti acara festival tersebut. Festival ini menjadi daya tarik para wisatawan karena grup reog yang tampil tidak hanya dari wilayah ponorogo namun dari beberapa kota besar yang ada di Indonesia. Hal itu tidak luput dari peran sanggar seni yang ada diberbagai daerah di Indonesia khususnya daerah Ponorogo. Ini juga merupakan salah satu upaya pengembangan reog ponorogo.


PENUTUP
Dengan adanya sanggar seni pengembangan reog ponorogo akan lebih mudah. Diharapkan reog ponorogo akan menjadi budaya yang terus berkembang dan tidak akan luntur seiiring dengan berkembangnya zaman. Sanggar seni diharapkan bisa menjadi wadah para seniman dan generasi muda untuk terus mempelajari dan mengembangkan reog ponorogo. Namun, tidak hanya sanggar seni yang berperan dalam pengembangan reog ponorogo tetapi pemerintah dan masyarakat sekitar khususnya generasi muda juga ikut andil dalam pengembangan reog ponorogo ini. Dengan adanya kerjasama yang baik antar-golongan maka hambatan-hambatan yang ada akan terselesaikan dengan baik dan reog ponorogo dapat berkembang terus hingga di kancah internasional.


DAFTAR RUJUKAN

Christika, Arny P.2016.Reog Menuju Pengakuan UNESCO.Liputan 6. (Online), (http://www.liputan6.com), diakses 29 Oktober 2016.
Kurniawan, Benny. 2012.Ilmu Budaya Dasar.Tangerang Selatan: Jelajah Nusantara
Pribadi, Wahyu.2016.Riwayat Reyog Ponorogo. Ponorogo: Golden Terayon Press
Sedyawati, Edi.2006.Budaya Indonesia: Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Sulaeman, Munandar.2012.Ilmu Budaya Dasar.Bandung: PT Refika  Aditama
Read more...

Minggu, 17 Februari 2019

ASPIRASI MASYARAKAT TERHADAP PENDIDIKAN

0 komentar

ASPIRASI MASYARAKAT TERHADAP PENDIDIKAN
Oleh: Erni Febriana
Universitas Negeri Malang
Email: ernifebri27@gmail.com

Abstrak: Pendidikan adalah pengalaman-pengalaman belajar terpogram dalam bentuk pendidikan formal, nonformal, dan informal.  Peranan pendidikan dalam kemajuan suatu bangsa dan masyarakat merupakan hal yang sangat penting. Dalam konsep pendidikan diperlukan kerja sama antara sekolah dan masyarakat yang dimulai dengan menetapkan komunikasi yang efektif. Masyarakat adalah manusia yang hidup bersama dalam jangka waktu yang cukup lama. Masyarakat memiliki peran penting dalam penyelenggaraan pendidikan yang berupa pemikiran, ide, dan gagasan-gagasan inovatif demi kemajuan suatu pendidikan.
Kata Kunci: pendidikan, masyarakat

Pendidikan adalah pengalaman-pengalaman belajar terpogram dalam bentuk pendidikan formal, nonformal, dan informal. Peranan pendidikan dalam kemajuan suatu bangsa dan masyarakat merupakan hal yang sangat penting. Masyarakat selaku pengguna jasa lembaga pendidikan memiliki kewajiban untuk mengembangkan serta menjaga keberlangsungan penyelenggaranaan proses pendidikan. Dalam konsep pendidikan diperlukan kerja sama antara sekolah dan masyarakat yang dimulai dengan menetapkan komunikasi yang efektif. Pendidikan dapat berjalan dengan baik apabila ada dorongan dari lembaga pendidikan dan masyarakat. Peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan sangat dibutuhkan dalam peningkatan mutu pendidikan, bukan hanya memberikan bantuan berwujud material saja, namun juga diperlukan bantuan yang berupa pemikiran, ide, dan gagasan-gagasan inovatif demi kemajuan suatu pendidikan.

BAHASAN
Hakikat Masyarakat
Manusia pada umumnya dilahirkan seorang diri, namun demikian hidup bermasyarakat menjadi sesuatu yang tidak terhindarkan. Sisi individualitas manusia tidak bisa menolak sisi sosialnya, kesendirian manusia tidak bisa meninggalkan masyarakatnya. Pada hakikatnya, masyarakat adalah manusia yang hidup bersama, sekurang-kurangnya terdiri atas dua orang yang bercampur atau bergaul dalam jangka waktu yang cukup lama. Masyarakat juga dapat diartikan sebagai suatu kelompok manusia yang hidup bersama disuatu wilayah pada waktu tertentu dengan cara berfikir dan bertindak yang relatif sama dengan pola-pola kehidupan yang terbentuk oleh interaksi warga masyarakat dengan alam sekitar yang membuat warga masyarakat itu menyadari diri mereka sebagai suatu kelompok.

Hakikat Pendidikan
Pendidikan adalah suatu proses pencapaian tujuan, artinya berupa serangkaian kegiatan yang bermula dari kondisi-kondisi aktual dari individu yang belajar. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 Ayat 1. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
Untuk memahami pendidikan, ada dua istilah yang dapat mengarahkan pada pemahaman hakikat pendidikan, yaitu pada paedagogie dan paedagogik. Paedagogie bermakna pendidikan, sedangkan paedagogiek berarti ilmu pendidikan. Oleh karena itu, pedagogik (pedagogics) atau ilmu mendidik adalah ilmu atau teori yang sistematis tentang pendidikan yang sebenarnya bagi anak atau untuk anak sampai ia mencapai kedewasaan (Triwiyanto, 2014:21). Secara singkat, pendidikan adalah pengalaman-pengalaman belajar terpogram dalam bentuk pendidikan formal, nonformal, dan informal.
Peran Masyarakat Terhadap Pendidikan Di Indonesia
Masyarakat selaku pengguna jasa lembaga pendidikan memiliki kewajiban untuk mengembangkan serta menjaga keberlangsungan penyelenggaranaan proses pendidikan. Pendidikan tidak lagi menjadi milik kelompok atau golongan tertentu dan bahkan sudah menjadi tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Sekolah harus menjadi bagian utama, sedangkan masyarakat dituntut perannya dalam peningkatan mutu yang telah menjadi komitmen sekolah demi kemajuan masyarakat. Peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan sangat dibutuhkan dalam peningkatan mutu pendidikan, bukan hanya memberikan bantuan berwujud material saja, namun juga diperlukan bantuan yang berupa pemikiran, ide, dan gagasan-gagasan inovatif demi kemajuan suatu pendidikan.
Cara Meningkatkan Partisispasi Masyarakat Terhadap Pendidikan Di Indonesia
Partisipasi masyarakat bertujuan untuk memobangun lembaga pendidikan. Selain itu, memberi peluang secara luas peran masyarakat dalam dunia pendidikan sekaligus menunjukkan bahwa negara bukan satu-satunya penyelenggara pendidikan. Wujud partisipasi tersebut lebih menekankan pada mengelola komunikasi antara lembaga pendidikan dengan masyarakat. Media-media atau wadah-wadah komunikasi tersebut sebenarnya sudah ada, misalnya melalui persatuan orang tua peserta didik, komite atau dewan sekolah, dewan pendidikan atau lembaga swadaya masyarakat yang fokus pada bidang pendidikan (Triwiyanto, 2014:191).
Partisispasi masyarakat terhadap pendidikan akan tumbuh jika masyarakat juga merasakan manfaat dari keikutsertaan dalam program pendidikan (sekolah). Manfaat dapat diartikan dapat diartikan luas, termasuk rasa puas karena dapat menyumbangkan kemampuannya bagi kepentingan pendidikan. Salah satu jalan penting untuk membina partisipasi masyarakat terhadap pendidikan adalah dengan menetapkan komunikasi yang efektif. 

PENUTUP      
Simpulan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. Pendidikan dapat berjalan dengan baik apabila ada dorongan dari lembaga pendidikan dan masyarakat. Peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan sangat dibutuhkan dalam peningkatan mutu pendidikan. Untuk itu, masyarakat harus bisa berpartisipasi dalam pendidikan berupa pemikiran, ide, dan gagasan-gagasan inovatif demi kemajuan suatu pendidikan.
Saran
Hasil penulisan di atas dapat digunakan sebagai bahan kajian di bidang pendidikan. Pembaca khususnya masyarakat disarankan untuk melakukan partisipasi dalam bidang pendidikan seperti yang sudah dijelaskna di atas. 

DAFTAR RUJUKAN
Triwiyanto, Teguh. 2014. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.
NN. 2008. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU RI No. 20 Th. 2003). Jakarta: Sinar Grafika.

Read more...

Kamis, 31 Januari 2019

IMPLEMENTASI MANAJEMEN MUTU TERPADU

1 komentar

IMPLEMENTASI MANAJAMEN MUTU TERPADU MELALUI PERBAIKAN SECARA KONTINUITAS DALAM MENINGKATKAN MUTU SEKOLAH

Erni Febriana
Universitas Negeri Malang
Email: ernifebri27@gmail.com

Abstract: Total quality management is very importat to be implemented as form to improve school quality. This research aims to describe the implementation of total quality management through a continuous improvement that can be applied to educational institutions to improve the school quality. The research method is used literature review. The literature is collected and then analyzed. The results of the literature review prove that the implementation of total quality management through a continuous improvement process if done properly it can improve school quality.  
Keywords: total quality management, continuous improvement process, school
quality
Abstrak: Manajemen mutu terpadu sangat penting dilaksanakan sebagai wujud untuk meningkatkan mutu sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi manajemen mutu terpadu melalui perbaikan secara kontinuitas yang dapat diterapkan pada lembaga pendidikan dalam meningkatkan mutu sekolah. Metode penelitian yang digunakan yaitu literature review. Literature yang telah terkumpul kemudian dianalisis. Hasil dari literature review membuktikan bahwa implementasi manajemen mutu terpadu melalui proses perbaikan secara kontinuitas jika dilakukan dengan tepat mampu meningkatkan mutu sekolah.
Kata Kunci: manajemen mutu terpadu, perbaikan secara kontinuitas, mutu
sekolah
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan proses dalam mengembangkan seluruh potensi dan kemampuan yang dimiliki oleh manusia. Pendidikan dapat dilaksanakan di sekolah. Sekolah merupakan bentuk pendidikan formal yang ada di Indonesia. Sebagai suatu lembaga yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, sekolah harus mampu mempertahankan eksistensinya di dunia pendidikan dengan melakukan perubahan sebagai respon pada perkembangan yang sedang terjadi. Terlebih saat ini, persaingan mutu antar lembaga pendidikan khususnya sekolah sudah tidak dapat dihindari. Untuk menghadapi persaingan yang semakin besar dibutuhkan sekolah yang memiliki mutu tinggi sehingga mampu mencetak generasi masa depan yang bermutu dan memberikan inovasi dalam perubahan yang terjadi kearah yang lebih baik.
Sekolah yang bermutu adalah sekolah tidak hanya memiliki prestasi pada bidang akademik tetapi juga memiliki prestasi pada bidang non akademik. Selain itu, sekolah juga harus mampu mencetak lulusan yang mampu bersaing melalui pendidikan yang telah diberikan selama di sekolah. Peserta didik dipersiapkan dalam menghadapi perkembangan dunia pendidikan melalui proses pendidikan di sekolah sehingga ketika peserta didik lulus, mereka akan terbekali dengan pendidikan yang cukup. Peserta didik diharapkan mampu untuk menerapkan atau mengimplementasikan pendidikan yang telah didapat yang nantinya dapat membawa nama baik sekolah yang secara tidak langsung mampu meningkatkan mutu sekolah. Menurut Khoirunnisa (2014:948) salah satu masalah yang terjadi di dunia pendidikan yaitu adanya kesalahan manajemen dalam melakukan penyusunan perencanaan untuk ke depan yang dapat mempengaruhi mutu lulusan itu sendiri. Dimana dengan rendahnya mutu lulusan maka akan berpengaruh pada mutu sekolah pula.
Menurut Sallis (2012:45) menyatakan bahwa suatu lembaga pendidikan haruslah mampu membekali peserta didik dengan pendidikan yang bermutu sehingga mampu mencetak lulusan yang bermutu pula.  Salah satu cara untuk memperbaiki mutu sekolah yaitu dengan menerapkan manajemen mutu terpadu sebagai suatu upaya perbaikan secara kontinuitas terhadap seluruh komponen yang ada disekolah mulai dari sumber daya manusia hingga proses pembelajaran. Menurut Surahyo (2015:99) menyatakan bahwa manajemen mutu terpadu sangat penting diterapkan karena merupakan suatu metode agar mampu bersaing dan mempunyai keunggulan sehingga mampu menghasilkan mutu yang tinggi.  
Manajemen mutu terpadu dapat menjadi suatu alat untuk membantu sekolah dalam menghadapi berbagai perubahan yang ada seiring dengan perkembangan di dunia pendidikan. Manajemen mutu terpadu jika diimplementasikan dengan tepat dan secara maksimal dapat membantu dalam memecahkan masalah perkembangan di dunia pendidikan pada saat ini terlebih dalam meningkatkan mutu sekolah yang dijadikan cara dalam menghadapi persaingan mutu antar sekolah. Menurut Rasmi (2014:55) ada dasar implementasi manajemen mutu terpadu bahwa pengguna jasa pendidikan harus menjadi prioritas dan hasil dari manajemen mutu terpadu dapat tercapai apabila seluruh pihak melibatkan diri dalam proses pelaksanaannya. Melalui manajemen mutu terpadu pula, sekolah sebagai penyedia jasa pendidikan harus mampu memberikan kepuasan pelayanan kepada pengguna jasa pendidikan yaitu peserta didik, orang tua, dan masyarakat secara luas agar sekolah kehilangan eksistensinya di dunia pendidikan.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan metode penelitian literature review. Menurut Marzali (2016:27) literature review adalah suatu proses penelitian bahan pustaka dengan memahami isi beberapa buku, jurnal dan bahan pustaka lainnya mengenai permasalahan yang diangkat dalam penelitian untuk menghasilkan satu rangkaian tulisan yang berkaitan dengan suatu topik tertentu. Peneliti menggunakan buku dan jurnal terkait dengan permasalahan yang akan dibahas sebagai sumber informasi untuk mendukung pemecahan masalah yang diteliti.
Adapun langkah-langkah dalam melakukan metode literature review, yaitu menentukan permasalahan yang akan diangkat, mencari sumber pustaka (literature) yang relevan dengan permasalahan, menganalisis data, dan yang terakhir yaitu mengambil kesimpulan. Melalui literature yang terkumpul, peneliti mengumpulkan banyak informasi yang ada berkaitan dengan implementasi manajemen mutu terpadu melalui perbaikan secara kontinuitas dalam meningkatkan mutu sekolah.
HASIL
Implementasi Manajemen Mutu Terpadu di Sekolah
Sekolah yang bermutu adalah suatu sekolah yang mampu mengimplementasikan manajemen mutu terpadu secara tepat dan terwujudnya hasil yang maksimal. Sekolah yang bermutu mampu menunjukkan keunggulannya pada segala bidang yang ada di dunia pendidikan. Mutu sekolah dapat menjadi pembeda antar sekolah dengan melihat tingkat keberhasilan proses pendidikan yang dilaksanakan di sekolah. Implementasi manajemen mutu terpadu memerlukan keterlibatan seluruh pihak yang ada di sekolah agar dalam proses implementasinya berlangsung secara terstruktur sehingga mampu menciptakan hasil berupa sekolah yang bermutu secara maksimal. Sekolah bermutu maksimal adalah sekolah yang dapat mengimplementasikan kaidah-kaidah mutu secara tepat.
Mengupayakan kepuasan pengguna jasa pendidikan di sekolah untuk mendapatkan mutu pendidikan secara maksimal menjadi tujuan utama dari implementasi manajemen mutu terpadu di sekolah. Pengguna jasa pendidikan yang dimaksud adalah peserta didik, orang tua peserta didik, dan masyarakat secara luas. Namun, dalam implementasi manajemen mutu terpadu ini tidak boleh hanya terfokus pada hasil yang maksimal tetapi dalam mewujudkan hasil tersebut juga harus diperhatikan, seperti proses implementasi yang berkualitas, sumber daya manusia maupun non manusia yang mendukung, dan lingkungan sekolah yang mendukung pula. Sehingga dalam implementasi manajemen mutu terpadu secara umum memfokuskan pada memenuhi kebutuhan pengguna jasa pendidikan sesuai dengan standar mutu yang berlaku.
Dalam implementasi manajemen mutu terpadu membutuhkan beberapa tahap dan strategi yang tepat agar mencapai hasil yang maksimal sesuai dengan tujuan. Tahap implementasi tersebut terdiri dari tahap persiapan, tahap perencanaan, dan tahap pelaksanaan. Sedangkan strategi yang dapat digunakan yaitu dengan selalu melakukan evaluasi pada diri sekolah untuk menganalisis faktor yang menjadi keunggulan dan kekurangan sekolah.
Proses Perbaikan Berkelanjutan
Adanya persaingan dan kebutuhan pengguna jasa pendidikan yang selalu berubah mengikuti perkembangan menjadi salah satu alasan sekolah untuk melakukan proses perbaikan secara kontinuitas. Dalam melaksanakan proses perbaikan secara kontinuitas tersebut, kepala sekolah sebagai pemimpin dan penanggungjawab keberlangsungan proses pendidikan di sekolah harus mampu menggerakkan seluruh pihak yang ada di sekolah untuk mampu merespon perubahan dan terus melakukan perbaikan. Proses perbaikan secara kontinuitas dapat dilakukan dengan melakukan analisis segala permasalahan yang terjadi dan membuat pilihan alternatif pemecahannya; melakukan beberapa pelatihan dan supervisi pada pendidik dan tenaga kependidikan; melakukan evaluasi secara kontinuitas terhadap seluruh kegiatan yang dilakukan oleh sekolah sehingga ketika mengadakan kegiatan yang sama tidak akan mengulang kesalahan yang sama pula; serta bekerja sama dengan seorang ahli atau konsultan dari luar sekolah.
Hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan proses perbaikan secara kontinuitas antara lain: menganalisa proses selama melaksanakan proses pendidikan di sekolah yang nantinya dapat mencapai kerbehasilan dalam mencetak lulusan dengan mutu terbaik; membuat suatu model dasar yang digunakan untuk mengetahui seberapa capaian kinerja yang dilakukan dalam proses sehingga dapat mengetahui tingkat ketercapaian sekolah dalam memenuhi kebutuhan pengguna jasa pendidikan dan melalukan perbaikan terhadap proses dengan melakukan analisis permasalahan yang memberikan pengaruh terhadap proses sebelum permasalahan yang timbul berpengaruh pada hasil yang dicapai yaitu lulusan yang bermutu; serta sekolah dapat menerapkan proses perbaikan secara kontinuitas melalui metode benchmarking. Selain itu, ada beberapa faktor yang dapat dianalisis oleh sekolah untuk melakukan proses perbaikan secara kontinuitas, yaitu perlibatan pihak-pihak terkait seperti komite sekolah; melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan kurikulum yang telah dibuat; serta pencapaian prestasi secara akademik maupun non akademik secara maksimal.
PEMBAHASAN
Implementasi Manajemen Mutu Terpadu di Sekolah
Menurut Nugroho (2013:46) manajemen mutu terpadu adalah suatu proses melakukan pendekatan dalam menjalankan suatu usaha yang digunakan untuk memaksimalkan daya saing suatu organisasi melalui perbaikan terus menerus terhadap jasa, proses yang dilaksanakan, sumber daya manusia, lingkungan yang berpengaruh, dan hasil yang dicapai. Dalam mengimplementasikan manajemen mutu terpadu haruslah melibatkan seluruh pihak yang ada di sekolah termasuk pihak-pihak yang memiliki pengaruh besar terhadap sekolah sehingga pencapaian tujuan akan lebih maksimal. Menurut Deming dalam Arcaro (2005:43) terdapat beberapa prinsip dari mutu yang dapat dijadikan dasar dalam implementasi manajemen mutu terpadu, yakni fokus pada pengguna jasa pendidikan, melibatkan seluruh pihak, mengukur tingkat keberhasilan yang dicapai, tanggungjawab, dan melakuakn perbaikan secara terus menerus.
Menurut Rosyada (2004) dalam Rasmi (2015:57) menyatakan bahwa terdapat lima pengguna jasa pendidikan di sekolah, yaitu peserta didik sebagai pengguna langsung pendidikan, orang tua yang telah menyerahkan anaknya kepada sekolah untuk mendapat pendidikan, lembaga pendidikan selanjutnya dimana peserta didik akan melanjutkan proses pendidikan selanjutnya, dunia usaha maupun industri yang membutuhkan sumber daya manusia yang bermutu, serta Negara yang membutuhkan sumber daya manusia yang terdidik secara baik. Pelaksanaan pendidikan khususnya di sekolah tidak dapat terlepas dari mutu, saat proses pendidikan di sekolah dilakukan dengan pertimbangan standar mutu, banyak aspek yang harus dilaksanakan dalam proses perbaikan secara kontinuitas.
Dalam implementasi manajemen mutu terpadu dibutuhkan standar mutu agar nantinya dapat melihat tingkat keberhasilan proses pelaksanaannya. Menurut Sulistyorini (2009:22) standar tersebut dapat berfungsi sebagai dasar dalam melaksanakan seluruh tahap implementasi guna menciptakan pendidikan yang memiliki mutu tinggi. sehingga apabila sekolah mampu memenuhi seluruh standar yang telah ditentukan oleh pemerintah, maka sekolah dapat mencapai mutu yang maksimal sesuai dengan harapan.

Pelaksanaan manajemen mutu terpadu membuat sekolah untuk terus melakukan kontrol terhadap seluruh sumber daya dan memanfaatkan sumber data tersebut secara lebih maksimal sehingga mampu meningkatkan mutu sekolah. Adapun cara yang dapat diterapkan oleh sekolah yang berupa evaluasi sekolah untuk dapat menganalisis keunggulan dan kekurangan sekolah. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, sekolah melibatkan pihak-pihak terkait untuk menentukan hal apa saja yang nantinya dibutuhkan untuk melakukan perbaikan sehingga mampu meningkatkan mutu sekolah.
Proses Perbaikan Secara Kontinuitas
Perbaikan secara kontinuitas yang dapat dilakukan oleh sekolah harus berfokus terhadap pencapaian mutu. Proses perbaikan secara kontinuitas ini dapat dilakukan dengan melakukan analisis terhadap permasalahan yang dapat mempengaruhi proses pelaksanaan pendidikan di sekolah; melakukan pelatihan dan supervisi terhadap pendidik dan tenaga kependidikan untuk meningkatkan kualitas; melakukan evaluasi secara kontinuitas terhadap seluruh kegiatan; serta melakukan kerjasama dengan konsultan dari luar sekolah. Menurut Ismail (2016:494) bahwa lembaga pendidikan terus melakukan perbaikan secara kontinuitas didasarkan pada kebutuhan pengguna jasa pendidikan dan adanya perubahan perkembangan dunia pendidikan. 
Untuk mewujudkan sekolah yang bermutu tinggi dibutuhkan proses yang tidak mudah dan membutuhkan perbaikan secara kontinuitas terhadap pembentukan mutu yang dilakukan oleh sekolah. Menurut Nugroho (2013:49) terdapat beberapa faktor yang dapat digunakan dalam membentuk sekolah yang memiliki mutu tinggi yakni melibatkan pihak-pihak terkait, menciptakan suasana kondusif, mencapai prestasi akademik yang tinggi, adanya keterlibatan siswa, memberikan reward dan insentif dari sekolah, peraturan sekolah, serta melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan kurikulum.
Proses perbaikan secara kontinuitas ini dilakukan pada seluruh komponen yang ada di sekolah, mulai dari sumber daya yang ada di sekolah, proses pembelajaran, hingga perbaikan sarana dan prasarana sekolah, dan hal lainnya yang dapat mempengaruhi mutu sekolah. Memperbaiki sumber daya khususnya sumber daya manusia diperlukan suatu program dimana dapat meningkatkan kinerja pendidik dan tenaga kependidikan yang ada di sekolah. Menurut Rahmawati (2009:8) terdapat beberapa program yang dapat diterapkan sekolah yaitu memperbaiki proses perekrutan calon tenaga pendidik dan kependidikan; membuat standar minimal dalam melakukan proses pendidikan; mengadakan pendidikan berupa pelatihan-pelatihan secara terus menerus; serta meningkatkan penelitian dan pengembangan.
Perbaikan dalam proses pembelajaran dapat dilakukan melalui perbaikan pada penyusunan dan pengimplementasian kurikulum dalam proses pembelajaran karena kurikulum sangat penting dalam menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Selaras dengan pernyataan tersebut, menurut Fadhli (2017:228) bahwa kurikulum yang bermutu dan sesuai menjadi penentu dalam proses meningkatkan mutu sekolah.
Menurut Prabowo (2012:76) menyatakan bahwa mutu dari sumber daya manusia di sekolah sangat berpengaruh pada keberhasilan perbaikan secara kontinuitas, karena dalam pelaksanaannya membutuhkan komunikasi dan penyusunan tujuan yang jelas dengan melakukan kerjasama. Oleh karena itu, dibutuhkan kerjasama yang baik antar pihak yang terlibat dalam proses perbaikan secara kontinuitas sehingga hasil yang dicapai akan maksimal dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
SIMPULAN
Sekolah yang memiliki mutu tinggi adalah sekolah yang mampu menyeimbangkan antara prestasi akademik dan non akademik. Sekolah memiliki mutu tinggi dengan menerapkan manajemen mutu terpadu sebagai proses perbaikan secara kontinuitas. Manajemen mutu terpadu menuntun sekolah dalam memperbaiki mutu sekolah sehingga tidak akan ditinggalkan oleh para pengguna jasa pendidikan yaitu peserta didik, orang tua, dan masyarakata secara luas. Implementasi manajemen mutu terpadu dimaksudkan untuk meningkatkan mutu sekolah dalam menghadapi persaingan di dunia pendidikan dan adanya perubahan kebutuhan pengguna jasa pendidikan. Melalui perbaikan secara kontinuitas sekolah mampu memperbaiki setiap komponen yang ada di sekolah. Implementasi manajemen mutu terpadu melalui proses perbaikan secara kontinuitas melibatkan seluruh pihak yang ada di sekolah maupun pihak luar sekolah sehingga peningkatan mutu sekolah dapat dilaksanakan secara maksimal.
DAFTAR RUJUKAN
Arcaro, Jerome S. 2005. Pendidikan Berbasis Mutu. Prinsip-Prinsip Perumusan dan Tata Langkah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset
Fadhli, Muhammad. 2017. Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan. Jurnal Studi Manajemen Pendidikan, Volume 1 Nomor 2, (Online), (https://www/researchgate.net/publication/3/322098922_Manajemen_Peningkatan_Mutu_Pendidikan), diakses pada 23 November 2018
Ismail, Feiby. 2016. Implementasi Total Quality Management (TQM) di Lembaga Pendidikan. Jurnal Ilmiah Iqra’, Volume 10 Nomor 2, (Online), (http://journal.iain-manado.ac.id/index.php/JII/article/view/591/494), diakses pada 22 November 2018
Khoirunnisa. 2014. Implementasi Manajemen Mutu Terpadu di SDIT Insan Mandiri Jakarta. Jurnal Manajemen Pendidikan, Volume 5 Nomor 2, (Online), (http://journal.unj.ac.id/unj/index.php/jmp/article/view/1975), diakses pada 11 November 2018
Marzali, Amri. 2016. Menulis Kajian Literatur. Jurnal Etnosia, Volume 1 Nomor 2, (Online), (https://www.researchgate.net/publication/327180245_Menulis_Kajian_Literatur), diakses pada 10 November 2018
Nugroho, Riadi. 2013. Proses Perbaikan Berkelanjutan Dalam Mewujudkan Sekolah Unggul di SMK Negeri 3 Pati (Suatu Kajian Teoritis). Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, Volume 23 Nomor 1, (Online), (http://journals.ums.ac.id/index.php/jpis/article/ download/840/561), diakses pada 10 November 2018
Rasmi. 2014.  Peningkatan Mutu dan Profil Lembaga Pendidikan Dalam Perspektif Total Quality Management (TQM). Jurnal Al-Ta’dib, Volume 7 Nomor 1, (Online), (https://media.neliti.com/media/publications/235774-peningkatan-mutu-dan-profil-lembaga-pend-12902cff.pdf), diakses pada 10 November 2018
Rahmawati, Tina. 2009. Perbaikan Mutu Tenaga Pendidik di Sekolah Sebagai Proses Berkelanjutan. Jurnal Manajemen Pendidikan, Nomor 1, (Online), (https://journal.uny.ac.id/index.php/jmp/article/view/3682), diakses pada 23 November 2018
Sallis, Edward. 2012. Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan. Jogjakarta: IRCiSoD.
Surahyo. 2015. Implementasi Manajemen Mutu Terpadu Dalam Sistem Pendidikan, Permasalahan dan Pemecahannya. Jurnal Didaktika Islamika, Volume 5 Nomor 1, (Online), (http://stitmkendal.ac.id/docs/jurnal/implementasi_manajmen_ mutu_terpadu_dalam_sistem_pendidikan_permasalahan_dan_pemecahannya_0.pdf), diakses pada 10 November 2018


Read more...